Pupung Puad Hasan - Jurnal ASN

Harmonisasi Multi Generasi

Halo Sahabat ASN. Kali ini kita akan membahas mengenai Harmonisasi Multi Generasi. Tulisan saya di bawah ini pernah dimuat di Majalah Cakrawala Edisi Semester Pertama Tahun 2018. Saya tuliskan ulang ya. Barangkali ada Sahabat ASN yang saat ini membutuhkan informasi mengenai harmoninasi multi generasi seperti yang saya tulis ini.

Keberagaman

Dalam keseharian, kita mungkin lebih sering mendengar istilah “mengelola sumber daya manusia” dari pada istilah “mengelola generasi”. Istilah mengelola generasi menjadi perhatian penting ketika belakangan generasi zaman now, atau sering kali disebut generasi millenial mulai memasuki fase usia produktif atau memasuki dunia kerja. Generasi millenial menjadi perhatian karena memiliki karakteristik yang cukup berbeda dengan generasi sebelumnya.

Salah satu fenomena menarik bahwa hampir setengahnya, bahkan 70% pegawai di banyak perusahaan swasta adalah generasi millenial. Saat ini banyak juga perusahaan melakukan exit interview pada generasi millenial, (Gustiandi, Division Head PT Astra). Hal tersebut tentu memiliki alasan yang terkait dengan karakteristik dan work habits dari generasi millenial. Tommy Wattimena CEO PT Sinarmas CP, mengatakan bahwa ilmu yang diperoleh dari para menejernya dahulu tidak dapat diterapkan untuk mengelola generasi millenial saat ini di perusahaanya.

Dari fakta- fakta tersebut kita harus menyadari bahwa organisasi akan berhasil ketika kita menyadari bahwa ada generasi baru dengan karakteristik baru yang juga harus kita fahami, sehingga kita memiliki pendekatan pengelolaan dan perlakuan yang barang kali juga berbeda. Mengelola keberagaman ternyata tidak hanya mengelola keberagaman suku, bahasa, budaya, maupun agama, mengelola keberagaman dalam konteks keberagam generasi juga menjadi sangat penting saat ini.

Pupung Puad Hasan - Jurnal ASN
Harmonisasi Multi Generasi

Pengelompokan Generasi

Kajian tentang perbedaan generasi sebenarnya sudah lama dilakukan oleh para ahli. Putra (2016) menyebutkan bahwa Penelitian yang pertama tentang perkembangan nilai – nilai generasi dilakukan oleh Manheim pada tahun 1952, penelitian tersebut didasarkan pada kajian- kajian dalam bidang sosiologi tentang generasi pada kisaran tahun 1920 sampai dengan tahun 1930. Mannheim (1952) mengungkapkan bahwa generasi yang lebih muda tidak dapat bersosialisasi dengan sempurna karena adanya gap antara nilai – nilai ideal yang diajarkan oleh generasi yang lebih tua dengan realitas yang dihadapi oleh generasi muda tersebut, lebih lanjut dikatakan bahwa lokasi sosial memiliki efek yang besar terhadap terbentuknya kesadaran individu.

Melihat kajian diatas, maka sebenarnya selalu ada gap antara generasi sesuai rentang waktunya atau kesamaan rentang tahun dari generasi tersebut dilahirkan sampai pada usia produktif. Sebagaimana Kupperschmidt’s (2000) yang mendefinisikan generasi adalah sekelompok individu yang mengidentifikasi kelompoknya berdasarkan kesamaan tahun kelahiran, umur, lokasi, dan kejadian – kejadian dalam kehidupan kelompok individu tersebut yang memiliki pengaruh signifikan dalam fase pertumbuhan dalam kehidupan mereka.

Pengelompokan generasi sudah banyak dilakukan oleh para peneliti seperti Tapscot (1998) mengelompokan generasi menjadi tiga kelompok generasi, kemudian Howe dan Strauss (2000), Zamke et al. (2000), Lancaster dan Stilman (2002), Martin dan Tulgan (2002) mengelompokan generasi menjadi empat kelompok generasi. Sedangkan Oblinger & Oblinger (2005) mengelompokan generasi menjadi lima kelompok generasi. Sedangkan  yang disampaikan oleh Goestandi, 2017 ada empat kelompok generasi sebagai berikut:

Traditionalist(1925-1945) Baby Boomers(1946-1964) Gen – X(1965-1980) Gen – Y(1981-1995)
· Indirect in communication· Loyalty

· Seniority

· Adherence to the rules

·  Optimism·  Personal growth

·  Do not respect titles

·  Uncomfortable with conflict

· Think globally· Goal-oriented

· Self-reliance

·  Question authority

·  Technology-savvy·  Diversity

·   Confidence

·  Need flexibility

Concervative Egocentric Great Challanger Picky

Sumber: Leading Millenials, Goestiandi, 2017.

Pada tabel di atas kita dapat melihat perbedaan- perbedaan antar generasi, dari generasi traditionalist sampai generasi Y atau generasi millenial. Setiap generasi memiliki karakteristik yang berbeda- beda. Perbedaan- perbedaan tersebut tentunya disebabkan oleh kondisi dan kejadian pada masa generasi tersebut dilahirkan sampai pada masa usia produktif. Sebagai contoh generasi millenial (Gen Y) memiliki karakteristik melek teknologi karena memang dilahirkan dimasa teknologi informasi maju dengan pesat seperti perubahan dari mesin ketik ke mesin komputer, perubahan yang cepat pada teknologi komunikasi seperti ponsel dan lainnya.

Sama hal nya dengan generasi baby boomers mengapa tidak menyukai konflik, hal tersebut disebabkan hidup dimasa perang telah berakhir. Dalam bekerja pun tentunya setiap generasi memiliki karakteristik dan work habit yang berbeda. Generasi Traditionalist dan Baby Boomers adalah generasi yang memiliki loyalitas yang tinggi, disiplin dan berdedikasi dalam bekerja. Berbeda halnya dengan generasi millenial yang memerlukan keseimbangan antara gairah, gaya  hidup dan bekerja, mereka mengenal asas work of balance, sehingga kecenderungannya generasi ini tidak mau lama- lama di kantor. Dengan berbagai perbedaan- perbedaan antar generasi tentu perlu menjadi perhatian bagi setiap ogranisasi untuk dapat mengelolanya sehingga harmonisasi antar generasi dalam bekerja dapat dibangun dengan baik dan tidak menciptakan konflik antar generasi.

 

Bahan Bacaan:

  1. Kupperschmidt Betty R. EdD RN, 2000, Multigeneration Employees: Strategies for Effective Management, The Health Care Manager: September 2000 – Volume 19 – Issue 1 – ppg 65-76, Aspen Publisher Inc, New York
  2. Tommy Wattimena, 2017, Organization Transision, Bahan Paparan HR EXPO 2017, Inti Pesan, Jakarta
  3. Ekoesli Goetiandi, 2017, Leading Millenials: Gen Y, Bahan Paparan HR EXPO 2017, Inti Pesan, Jakarta
  4. Yanuar Surya Putra, 2016, Theoritical Review: Teori Perbedaan Generasi, Among Makarti Vol. 9 Nomor 18, Desember 2016, STIE AMA, Salatiga

**Tulisan ini pernah di muat di Majalah Cakrawala Edisi Semester Pertama Tahun 2018

Semoga tulisan mengenai Harmonisasi Multi Generasi ini bermanfaat buat Sahabat ASN semua. Sampai ketemu di tulisan berikutnya ya.

1 thought on “Harmonisasi Multi Generasi”

  1. Pingback: Peningkatan Pendapatan Daerah Melalui Optimalisasi Pemanfaatan Aset Daerah - Pupung Puad Hasan

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *